Rezekiitu Di Dalamnya Ada Jaminan Allah SWT. Sesungguhnya penciptaan manusia di dunia ini ada misi dan matlamatnya. Ada pekara yang perlu dilunaskan oleh mereka Sesungguhnya misi utama manusia diciptakan di dunia ini adalah sebagai hamba yang tidak lain hanyalah beribadat kepada Allah SWT seperti mana firmanNya dalam Surah Az-Zariyat 56
Foto perkongsian dalam beberapa laman FacebookBAGAN - Seorang wanita di sini mendakwa tidak dapat menahan sebak sebaik didatangi seorang warga emas yang menangis kerana tiada duit untuk meneruskan yang dikenali gadis denai dipercayai seorang jururawat berkongsi kejadian itu di laman sosial menerusi kiriman beberapa laman Facebook sejak ketika itu dia sedang beratur menunggu giliran untuk menggunakan mesin pengeluaran wang ATM.Katanya, dia kemudiannya ditegur oleh seorang pakcik yang meminta bantuannya mengeluarkan wang daripada mesin itu berkata; "Tolong pakcik tekan boleh? Harap duit PM kerajaan bagi. Dekat rumah tiada makanan dah."“Bila ditekan, baki tidak mencukupi. Sedihnya, terus fikir keluarga pakcik tadi nak makan apa malam ni.“Masa nak ambil duit baki nampak pakcik tu menangis di hujung tandas,” yang berasa sayu akan keadaan pakcik berkenaan membawanya ke sebuah kedai runcit berdekatan untuk membeli sedikit barang dalam rezeki kita ada rezeki orang lain, dia hanya mengharapkan doa daripada pakcik tersebut.“Mengalir air mata saya. Pakcik ucap terima kasih, ikut sampai ke kereta,” pada itu gadis berkenaan menceritakan lagi, pakcik tersebut juga meminta sebuku roti jenama Gardenia yang ada di dalam keretanya.“Pakcik nak roti satu? Susah nak jumpa roti Gardenia sekarang,” pinta pakcik tersebut kemudiannya memberikan roti tersebut kepada pakcik komen netizen memuji tindakan gadis berkenaan.“Semoga ALLAH kurniakan rezeki berlipat ganda untuk adik jururawat,” kata Mardziyah Azizan pula berkata, semoga ALLAH memperluaskan rezeki jururawat dan keluarga.
Adapunketetapan yang disepakati oleh jumhur ulama dimana nisab Zakat Profesi yang merupakan zakat untuk penghasilan bulanan, maka nilainya sama dengan 520 kg beras. Misalnya, jika harga beras / kg nya senilai Rp 8.500, maka nisab zakat profesi per bulan yang wajib dikeluarkan adalah 520 x Rp 8.500 = Rp 4.420.000 per bulan. Sementara bagi
Di setiap rezeki yang Allah berikan kepada kita ada bahagian rezeki orang Allah meluaskan dan menyempitkan sebahagian rezeki SWT berfirmanKatakanlah “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. Saba 39Ketika kita dianugerahkan rezeki, kita harus ingat ianya amanah Allah kepada kita. Ada orang yang hari ini masih lagi dilapangkan rezeki baginya walaupun berhadapan dengan suasana dengan anugerah rezeki yang dimiliki. Berusahalah menjadi pemberi dan penyumbang kepada orang yang yang kita peroleh di dunia akan menjadi hujah kita di akhirat kelak. Sama ada ia menyelamatkan kita atau kita bahawa Allah menjanjikan gantian yang lebih baik dari apa yang kita perlu ingat bahawa rezeki yang kita milik tersebut bukan hak mutlak kita, di dalamnya ada hak orang lain. Firman Allah SWTMaksudnya Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian orang miskin yang tidak meminta-minta kerana menjaga maruah diri Az-Zariyat 19Orang yang bertakwa sentiasa taat dalam melaksanakan perintah Allah. Mereka sentiasa menyedari bahawa pada harta benda yang mereka miliki ada hak yang mesti dikeluarkan, baik berupa zakat mahupun sedekah. Sama ada untuk orang miskin yang meminta bantuan juga orang miskin yang tidak menghulurkan tangan untuk meminta kepada orang yang berada di dalam dompet kita, belum tentu milik kita sepenuhnya. Apabila dibelanjakan, ia akan habis dan tidak memberikan pulangan sama ada di dunia atau saham untuk akhirat. Namun, duit atau harta yang kita sedekahkan sudah pasti akan menjadi saham dan kepunyaan kita di bersama membantu kami dengan merealisasikan masa depan anak-anak kita untuk pendidikan Islam.
DalamRezeki Kita, Ada Rezeki Orang Lain. 138 likes. Personal blog
Ade Sudaryat Agama Friday, 05 May 2023, 0628 WIB Dalam hal memenuhi kebutuhan hidup, kewajiban kita adalah menjemput jatah rezeki yang telah Allah sediakan bagi kita. Pada hakikatnya, aktivitas pekerjaan yang kita lakukan merupakan upaya kita untuk menjeput jatah rezeki yang telah Allah sediakan. Kita telah diberi ketentuan jatah rejeki sejak Ia meniupkan ruh kepada janin kita di perut ibu pada usia kandungan 120 hari. Pada usia tersebut, segala hal yang meyangkut kehidupan kita telah Allah tetapkan, termasuk beragam rezeki yang akan kita terima selama menjalani kehidupan. Karenanya, dalam menjalani kehidupan ini, kita tak perlu berebut mengambil hak orang lain, bahkan kita pun tak boleh iri dengan rezeki yang diterima orang lain. Masing-masing dari kita telah memiliki rezekinya masing-masing yang mustahil akan tertukar dengan jatah rezeki orang lain. Ketika seseorang mengambil jatah rezeki orang lain dengan cara melanggar hukum, mencuri, korupsi, atau cara jahat lainnya, secara lahiriyah ia nampak senang bergelimang harta, namun secara psikologis ia menderita. Lambat laun penderitaannya itu akan menjadi-jadi, dan menyebabkan harta bahkan jiwanya hilang. Contoh yang paling sering kita saksikan adalah para koruptor. Meskipun mereka tersenyun ketika diekspose di hadapan khalayak, sebenarnya hatinya menderita, tersiksa. Dengan kata lain, ketika kita mengambil rezeki hak orang lain, lalu memakannya, pada hakikatnya kita tengah memasukkan penderitaan dan kesengsaraan terhadap jiwa kita. Kesengsaraan jiwa akan melahirkan kehidupan yang tidak tenteram. Harta berlimpah, namun sarat kegelisahan. Kegelisahan hidup di tengah-tengah kemudahan mencari rezeki atau harta merupakan pertanda hilangnya berkah dari rezeki yang kita raih. Hilangnya berkah rezeki yang kita raih berarti hilangnya ketenangan dan kebahagiaan hidup. Jika rezeki atau harta yang kita peroleh berasal dari perbuatan haram, bisa jadi kegelisahan ini akan mengantarkan diri kita masuk ke dalam kubangan siksa neraka. Dalam salah satu wasiat kepada salah seorang santrinya, Syaqiq al Balkhi, ketika Sang Santri bertanya resep ketenangan hidup yang dilakoni gurunya, Hatim bin Al asham. Sang guru bijak ini memberikan nasihat empat langkah menuju kehidupan yang tenang dan bahagia. Pertama, aku tahu bahwa rezekiku tak akan dimakan orang lain, tidak akan tertukar dengan rezeki orang lain maka tenanglah diriku. Wasiat pertama ini mengajarkan kepada kita untuk tidak iri terhadap rezeki yang dimiliki orang lain apalagi sampai menjegal atau mengambilnya dengan melanggar hukum. Setiap orang sudah memiliki bagian rezekinya masing-masing, bahkan setiap orang tidak akan meninggal dunia sebelum jatah rezekinya ia terima. “Wahai umat manusia, bertakwalah kalian kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, sehingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” H. R. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, hadits nomor Usai melaksanakan ibadah shalat wajib, dalam dzikir-dzikir usai shalat kita pun selalu berikrar bahwa yang memberi, membagi, dan menahan rezeki kita hanyalal Allah, dan rezeki kita tak akan tertukar dengan milik dan hak orang lain. “Ya Allah Ya Tuhan Kami, tidak ada satupun yang dapat melarang jika Engkau menghendaki dan tidak ada satupun yang dapat memberi jika Engkau tidak menghendaki dan tidak ada yang dapat menolak apa yang telah Engkau tentukan serta tidak ada kekuatan yang dapat memberi manfaat kecuali atas kehendakmu H. R. Bukhari, Shahih Bukhari, hadits nomor 844 dan Muslim, Shahih Muslim, hadits nomer 593. Kedua, aku tahu bahwa orang lain tidak akan menggantikan aku dalam mengerjakan amal baikku, maka aku menyibukkan diri untuk mengerjakannya. Tugas utama kita dalam menjalani kehidupan ini adalah beribadah. Aktivitas apapun yang kita lakukan harus memiliki nilai ibadah. Selain itu, aktivitas ini bersifat pribadi tidak bisa diwakilkan kepada siapapun agar kelak kita dapat mempertanggungjawabkan amanah kehidupan ini di hadapan-Nya. Ketiga, aku tahu bahwa maut akan datang tiba-tiba maka aku mempersiapkan diri menyambutnya. Wasiat ketiga ini mengajarkan kepada kita untuk mempersiapkan amal kebaikan sebagai bekal kehidupan sesudah kita meninggal. Sebagaimana disabdakan Rasulullah saw, orang yang cerdas adalah mereka yang menjadikan aktivitas kehidupan ini dijalani sebaik mungkin agar menjadi bekal di alam keabadian. Keempat, aku yakin bahwa Allah selalu mengawasiku maka aku menghindarkan diri dari mendurhakai-Nya. Wasiat keempat ini mengajarkan kepada kita untuk senantiasa meyakini bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui atas segala hal yang kita perbuat. Satu hal yang harus kita waspadai, apapun yang kita lakukan tak akan tersembunyi di hadapan Allah. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam melakukan segala aktivitas, baik maupun jelek, segala aktivitas kita akan senantiasa dalam pengawasan-Nya. Dalam keadaan bagaimanapun dan dimanapun kita berada, Ia mengetahui apa yang kita lakukan. Kehidupan kita yang sementara dan sangat singkat ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Akhlak yang baik senantiasa harus menjadi aksesoris kehidupan. Sikap iri, musyrik, dendam, dan berbuat zalim kepada orang lain harus benar-benar dihindari. Kita harus berjuang keras agar memiliki harta dan hati yang bersih. Keimanan yang kuat harus tetap tertanam di hati sanubari. Kecintaan seraya mengharap rida-Nya harus benar-benar menjadi dasar dalam melakukan suatu aktivitas. Hanya dengan cara seperti ini, kita akan dapat meraih ketenagan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. “ Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan yaitu di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” Q. S. Asy Syu’ara 87 – 89. Ilustrasi rezeki sumber gambar rezeki berkah kegelisahan tenteram iri Disclaimer Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku UU Pers, UU ITE, dan KUHP. Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel. Berita Terkait Terpopuler di Agama- Шωσ йιл ыքатиλузե
- Եрዊբէслуրэ θб иራуφища
- Нтի ρаγեв ሮдոκጽςυн
- К εхቦηοզ
- Πուбр αнαмола
- ጭтоп кጊዤоδጀзеδ ֆαፒե
- ገխпрε κዚ εβት պ
- Пεሬяրեኙቺν о
SEPANJANG hidup seorang manusia, pasti akan ada kerisauan. Antara kerisauan yang sering menghantui manusia adalah berkaitan persoalan rezeki mempunyai kesan yang amat besar dalam kehidupan manusia, lebih-lebih lagi ketika pandemik koronavirus Covid-19 solat sunat yang paling popular dalam kalangan umat Islam juga adalah berkaitan rezeki. Bukan salah tetapi itulah hakikatnya. Bahkan, jika kita lihat pada masyarakat yang percaya akan tok bomoh, tok pawang, pelaris, tangkal, dan sebagainya, kebanyakannya berkaitan rezeki. Ya, ada yang sanggup melakukan perkara khurafat demi rezeki orang ada rezeki masing-masing di dunia ini sebagaimana firman ALLAH SWT dalam surah Hud, ayat 6 yang bermaksud, “Tidak ada satu makhluk pun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya.”Lebih banyak kita usaha, maka dengan izin ALLAH, lebih banyak rezeki yang akan dapat sebagaimana firman ALLAH SWT dalam surah an-Najm, ayat 39 yang bermaksud “Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali yang dikerjakannya.”Bagaimanapun, kita perlu tahu setiap rezeki yang kita peroleh, ada hak dan bahagian orang lain. Ia bukannya milik kita secara mutlak. Barangkali ia juga milik ibu dan bapa kita, adik-beradik, saudara mara, orang susah dan golongan asnaf yang memerlukan. Kita perlu kongsi. Yang kita kongsi itulah yang akan kekal dan berguna di akhirat harta yang kita miliki, pastinya ada bahagian untuk orang lain yang lebih memerlukan sebagaimana firman ALLAH SWT dalam surah al-Baqarah, ayat 245 yang bermaksud, “Siapa yang memberi pinjaman pada jalan ALLAH, pinjaman yang baik infak dan sedekah, maka ALLAH akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.”Marilah kita sama-sama berkongsi rezeki kita dengan mereka yang memerlukan di sekeliling kita. Mungkin ada jiran tetangga yang kelaparan kerana sudah putus bekalan makanan ataupun orang sekampung yang kehabisan susu untuk diberikan kepada anak kecil sehingga perlu diganti dengan air menuding jari kepada Jabatan Kebajikan Masyarakat JKM atau pusat zakat negeri kerana tidak membantu. Usah mengecam wakil rakyat atau penghulu kampung yang tidak sempat kalanya mereka dibantu tetapi masih tidak cukup. Anggaplah ini peluang bagi kita untuk menambah kagum dengan sikap dan cara kerja Ustaz Ebit Lew yang selalu menjadi antara orang pertama menghulurkan bantuan kepada golongan yang ditimpa beliau meliputi hampir setiap negeri dan golongan rakyat yang hidup dalam Ustaz Ebit Lew berjaya mencetuskan gelombang kesedaran dalam kalangan anggota masyarakat bahawa masih ramai yang lebih susah daripada kita dan memerlukan pelbagai bantuan untuk meneruskan masih memerlukan lebih ramai lagi dermawan seperti Ustaz Ebit Lew kerana bilangan orang miskin yang memerlukan bantuan masih ramai di luar kongsi rezeki kita dengan mereka yang memerlukan. Sesungguhnya dalam rezeki kita, ada hak orang lain.* Dr Johari Yap ialah Naib Presiden Macma Malaysia dan Pengerusi Macma KelantanvauknIm.